Kawasan Tapal Kuda mempunyai bentang cerita yang luas. Pegunungan, jalur pesisir, perkebunan, hutan, pesantren, kota lama, dan desa-desa di dalamnya menyimpan sejarah yang tidak selalu tercatat dalam satu buku. Karena itu, Arsip Tapal Kuda tidak akan membatasi diri hanya pada tempat yang populer atau sudah sering dibahas.
Tempat yang menyimpan jejak
Kami akan mendatangi situs, bangunan, makam, petilasan, gua, sumber air, jalur lama, dan lokasi lain yang memiliki hubungan kuat dengan ingatan masyarakat. Penelusuran tidak selalu dimulai dari klaim besar. Kadang sebuah nama jalan, batu tua, atau larangan sederhana justru menjadi pintu menuju cerita yang lebih panjang.
Cerita yang diwariskan
Tradisi lisan adalah bagian penting dari identitas daerah. Cerita dapat berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya, tetapi perubahan itu sendiri layak dicatat. Kami ingin mengetahui siapa yang pertama kali mendengar sebuah kisah, bagaimana kisah itu disampaikan, dan nilai apa yang dijaga di dalamnya.
Kami tidak menempatkan cerita rakyat sebagai sesuatu yang harus langsung dibuktikan atau dibantah. Cerita dapat mengandung ingatan sejarah, pesan moral, penanda wilayah, perlindungan lingkungan, atau cara masyarakat menjelaskan peristiwa yang pada masanya sulit dipahami.
Misteri dan pengalaman manusia
Kesaksian mengenai suara, penampakan, mimpi, pantangan, atau kejadian aneh akan didengarkan dengan hormat. Namun, kami juga akan mencatat waktu, kondisi lokasi, jarak, arah, saksi lain, serta kemungkinan penjelasan lingkungan. Reaksi yang dramatis bukan tujuan utama kami; konteks dan kejujuran lebih penting.
Sejarah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari
Sejarah lokal tidak selalu berbicara tentang raja dan peperangan. Perubahan nama desa, bekas jalur perdagangan, bangunan pengairan, cerita perkebunan, perpindahan penduduk, dan tradisi keluarga juga membentuk wajah sebuah wilayah. Kami ingin membuat sejarah terasa dekat, bukan hanya sebagai rangkaian tahun dan nama.
Suara orang-orang yang menjaga cerita
Juru kunci, sesepuh, warga, pemilik lahan, pegiat budaya, peneliti, dan saksi mempunyai sudut pandang berbeda. Sebisa mungkin, satu episode tidak hanya bergantung pada satu suara. Perbedaan versi akan ditampilkan secara terbuka agar penonton dapat memahami bahwa ingatan masyarakat tidak selalu seragam.
Batas yang kami jaga
Setiap lokasi memiliki aturan, kepemilikan, dan nilai sakral. Kami tidak akan merusak, mengambil benda, membuka makam, memasuki area terlarang, atau memancing fenomena dengan tindakan yang tidak menghormati tempat. Bila sebuah informasi berpotensi merugikan narasumber atau situs, kami dapat memilih untuk tidak menayangkannya.
Ruang lingkup ini akan terus berkembang bersama perjalanan kami. Namun satu hal tidak berubah: setiap penelusuran harus meninggalkan lokasi dan masyarakat dengan penghormatan yang sama seperti ketika kami datang.