Di wilayah Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo, sebuah jalan menuju kawasan hutan membawa pengunjung kepada tempat yang tidak mudah dimasukkan ke dalam satu kategori. Ia disebut makam, tetapi juga disebut petilasan. Di sana terdapat bangunan utama, sumur tua, batu petilasan, makam yang dipercaya sebagai makam para pengikut, serta tempat bagi penjaga situs.
Keberadaan Situs Prabu Jenggolo dan unsur kompleksnya dicatat oleh Perum Perhutani. Lokasi disebut berada di kawasan hutan produksi petak 20d, RPH Matikan, BKPH Probolinggo–Kraksaan, wilayah Kotaanyar.
Sang prabu yang mencari seorang putri
Menurut legenda lokal yang didokumentasikan Perhutani, tokoh yang disebut Prabu Jenggolo datang dari Kerajaan Jenggala bersama para pengawalnya. Perjalanan itu dipercaya dilakukan untuk mencari seorang putri bernama Gusti Dewi Suci yang hilang. Rombongan kemudian menetap di kawasan hutan dan mendirikan padepokan bernama Kota Baru. Dalam cerita yang berkembang, nama Kota Baru lalu dikaitkan dengan nama Kotaanyar.
Perjalanan mencari Gusti Dewi Suci, pendirian padepokan Kota Baru, serta hubungan cerita tersebut dengan asal nama Kotaanyar belum didukung arsip primer yang ditemukan dalam riset terbuka.
Kisah ini memberi alur yang kuat: seorang penguasa meninggalkan pusat kerajaannya, memasuki hutan untuk mencari anaknya, lalu membangun kehidupan baru. Namun, justru dari alur itulah pertanyaan utama muncul. Apakah “Jenggolo” nama pribadi, gelar, atau penanda asal? Kapan perjalanan tersebut dipercaya terjadi? Apakah sang putri pernah ditemukan? Sampai sekarang belum ada sumber terbuka yang menghubungkan tokoh di Kotaanyar dengan nama seorang raja tertentu dalam prasasti.
Janggala nyata, hubungan situs belum terbukti
Kerajaan Janggala bukan kerajaan rekaan. Ia dikenal dalam konteks pembagian kekuasaan Raja Airlangga pada abad ke-11 menjadi Panjalu dan Janggala. Dalam kajian sejarah, Panjalu dikaitkan dengan Daha, sedangkan Janggala berkaitan dengan Kahuripan. Nama Mapanji Garasakan juga muncul sebagai salah satu penguasa Janggala.
Keberadaan kerajaan tersebut membuat latar legenda Kotaanyar masuk akal secara umum. Akan tetapi, adanya kerajaan bernama Janggala tidak otomatis membuktikan bahwa bangunan di Kotaanyar berasal dari masa yang sama atau menjadi makam salah seorang rajanya.
Belum ditemukan prasasti, naskah, silsilah, laporan arkeologi, atau penetapan cagar budaya yang secara langsung menghubungkan situs ini dengan Kerajaan Janggala.
Siapakah Gusti Dewi Suci?
Nama Gusti Dewi Suci menjadi salah satu simpul paling menarik. Tradisi Jawa Timur mengenal figur Dewi Kilisuci, putri Airlangga yang dikaitkan dengan kehidupan spiritual. Kemiripan unsur “Dewi” dan “Suci” mengundang perbandingan, tetapi belum cukup untuk menyatakan bahwa keduanya adalah tokoh yang sama.
Kisah lokal mungkin menyerap unsur sejarah Janggala, tradisi Panji, ingatan masyarakat, dan pengalaman spiritual dari masa yang berbeda. Kemungkinan ini harus diuji melalui perbandingan naskah dan wawancara lintas generasi.
Sumur yang tidak kering dan air yang berubah merah
Di dekat bangunan utama terdapat sumur tua yang menjadi pusat banyak cerita. Airnya dipercaya tidak pernah kering meskipun musim kemarau. Pemerintah Kabupaten Probolinggo juga pernah memberitakan manfaat mata air dan sumur di sekitar situs bagi masyarakat dan pertanian ketika kemarau. Ini menunjukkan bahwa sumber air mempunyai fungsi nyata, bukan hanya makna ritual.
Di samping fungsi tersebut, terdapat pantangan: air yang telah ditimba dipercaya tidak boleh dikembalikan ke dalam sumur. Secara tradisional, pelanggaran dikaitkan dengan akibat buruk. Secara praktis, larangan itu juga mungkin berfungsi menjaga kebersihan sumber, tetapi alasan awalnya harus ditanyakan langsung kepada penjaga tradisi.
Cerita yang paling kuat menyebut bahwa pada Jumat Legi air kadang tampak berubah merah. Belum tersedia rekaman kontinu, catatan waktu, atau hasil laboratorium yang dapat memastikan penyebabnya. Secara umum, warna merah atau kecokelatan pada air tanah dapat berkaitan dengan besi, mangan, endapan, atau aktivitas mikroorganisme tertentu. Namun, penjelasan umum itu belum menjadi diagnosis untuk sumur Kotaanyar.
Untuk mengetahui penyebab perubahan warna, sampel harus diambil ketika fenomena terjadi, dibandingkan dengan kondisi normal, lalu diuji secara kimia dan mikrobiologi.
Suara gamelan dari sekitar makam
Pada malam tertentu, terutama Jumat Legi dan Selasa Kliwon, terdapat cerita mengenai suara gamelan dan sinden yang terdengar dari sekitar situs. Belum diketahui siapa saksi pertama, dari arah mana suara datang, atau apakah beberapa orang pernah mendengarnya secara bersamaan.
Tanpa wawancara terpisah dan rekaman lingkungan yang cukup panjang, suara tersebut tetap berada di antara kesaksian, kemungkinan pantulan bunyi dari kejauhan, aktivitas manusia, kondisi akustik hutan, dan sesuatu yang belum dapat dijelaskan.
Makam atau petilasan?
Misteri paling mendasar justru bukan air merah atau gamelan. Sumber lokal menggunakan istilah makam dan petilasan untuk objek utama. Jika makam, siapa yang dimakamkan? Jika petilasan, peristiwa apa yang dipercaya berlangsung di sana? Apakah bangunan sekarang berada di posisi asli, atau hasil renovasi dari masa yang lebih muda?
Jawaban tidak harus dicari melalui pembongkaran. Foto lama, catatan renovasi, bentuk nisan, analisis bahan bangunan, wawancara garis juru kunci, dan pemeriksaan noninvasif dapat memberi petunjuk tanpa merusak situs.
Arsip Tapal Kuda tidak datang untuk memaksakan pembuktian gaib. Kami datang untuk mencatat yang terlihat, yang diwariskan, yang dapat diuji, dan yang sampai sekarang belum terjawab.
Pertanyaan utama untuk penelusuran lapangan
- Siapa nama asli tokoh yang disebut Prabu Jenggolo?
- Apakah bangunan utama dipercaya berisi jasad atau hanya menjadi petilasan?
- Sejak kapan garis juru kunci menjaga lokasi?
- Apakah ada foto, naskah, silsilah, atau benda lama yang dapat diperiksa?
- Kapan bangunan terakhir direnovasi?
- Siapa saksi hidup perubahan warna air dan suara gamelan?
- Apakah kualitas air pernah diuji?
- Apakah situs pernah didata sebagai Objek Diduga Cagar Budaya?
Sumber awal
- Perum Perhutani — Situs Prabu Jenggolo Perhutani Probolinggo
- Pemerintah Kabupaten Probolinggo — Pelestarian sumber mata air
- Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya — Mengenal Cerita Panji
- USGS — Penyebab umum warna kemerahan pada air
Artikel ini merupakan ringkasan awal. Status informasi akan diperbarui setelah wawancara, pemeriksaan dokumen, dan kunjungan lapangan.